Saturday, 02-03-2024
  • Situs resmi Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang || Informasi Pendaftaran ~~ DIBUKA PADA 01 Februari 2024

ROJABIYYAH, “KELAS BELAJAR” UNTUK SANTRI DAN JAMA’AH

Diterbitkan : - Kategori : Abah / Berita / Pendidikan

Rojabiyyah

Rojabiyyah adalah agenda rutin tahunan yang telah dilaksanakan sejak tahun 1994, yakni tahun berpindahnya Al-Muhibbin Utara ke Al-Muhibbin Selatan yang kemudian menjadi Bumi Damai Al-Muhibbin. “Malam selasa kedua wulan rejeb” (malam selasa kedua bulan rajab), itu ketetapan Abah Kyai terkait waktu pelaksanaanya. Secara lengkap, Rojabiyyah dilaksanakan selama 2 hari, Ahad dan Senin.

Pada hari Ahad, dilaksanakan “Santunan Fakir Miskin” pada pagi harinya, dan “Kombinasi Sholawat ISHARI se Jawa Timur” pada malam harinya.

Hari seninnya, diawali dengan “Khotmil Qur’an bil Ghoib” di makam para masyayikh yang dimulai sekitar jam 06.00 WIB pagi, selanjutnya pukul 09.00 WIB dilaskanakan “Sowan Kyai dan Temu Alumni” dan malam harinya adalah acara puncak, yang meliputi “Pengantin Massal”, “Tahlil Akbar” dan “Pengajian Umum”, dalam rangka Peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad Saw dan Hari Ulang Tahun Pondok-pondok (PYI Al-Fattah, Al-Amanah, Al-Muhibbin, Al-Mardliyah, Al-Ikhlas dan Al-Asrar) juga Pengajian Al-hikam dan Ahad Legi. Setelah 26 tahun berjalan normal, tahun 2021 dan 2022, akibat pandemi, tidak semua agenda bisa dilaksanakan.

“Lek gae acara opo-opo, ojo lali nyantuni fakir miskin sekitar” (kalau membuat acara apa-apa, jangan lupa menyantuni fakir miskin sekitar). Itu dawuh Kyai Mursyid Abdul Jalil Mustaqim pada Abah Kyai, yang beberapa kali beliau sampaikan saat rapat. Inilah dasar adanya “Santunan Fakir Miskin” dalam agenda Rojabiyyah.

Saat masih menjadi panitia Roajbiyyah bagian konsumsi dulu, senior saya berkisah bahwa dulu ada panitia yang meminta sumbangan dengan mengajukan proposal ke pejabat pemerintahan untuk keperluan Rojabiyyah, tak disangka pejabat tersebut menyumbang dengan nominal yang cukup banyak. Karena kondisi keuangan masih jauh dari kata cukup, panitia tersebut tentu sangat bahagia. Kemudian saat sowan ke Abah, dia matur perihal sumbangan tersebut.

Tiba-tiba nada beliau meninggi, “Aku gak ridho lek duwek iku mlebu Rojabiyyah, masio cuma sak repes. Aku gak pernah ngongkon, awakmu yo gak jaluk izin, pokok e aku gak ridho”. (Saya tidak ridho bila uang itu terpakai untuk acara rojabiyyah, meski hanya satu rupiah. Saya tidak pernah menyuruh (mengajukan proposal ke pejabat), kamu juga tidak minta izin, pokoknya saya tidak ridho).

Kisah ini benar-benar membekas dibenak saya, meskipun saya belum bisa memahami secara utuh kenapa tidak boleh? Kan Halal, tapi yang jelas “Abah Kyai melarang”.

Sumbangan dari Pejabat

Beda halnya jika ada pejabat yang hadir dalam acara Rojabiyyah, misal Bupati atau Wakil Bupati, Gubernur atau Wakil Gubernur, atau pejabat yang lain. Caranya juga macam-macam, ada yang salam tempel pada Abah Kyai, ada yang ditipkan penderek Beliau, ada yang diberikan pada Panitia. Meski menurut saya, “ini uang halal”, tapi harus minta arahan Beliau.

“Mau Wakil Gubernur ngekek’i salam tempel, nyumbang gae Rojabiyyah, asline tak tolak, tapi muekso, yo wes” (Tadi Wakil Gubernur memberi salam tempel (amplop), sumbangan untuk acara Rojabiyyah, aslinya saya tolak, tapi dia memaksa, ya sudah (saya terima)” kata beliau sambil menyodorkan sebuah amplop tebal.

“Aku ra ruh isine piro, nganu yo, duwek iki didewekno, ojo di campur karo liyane, seng iki khusus gae acara santunan Fakir Miskin, ojo gae liyane” (Saya tidak tahu isinya berapa, gini ya, uang ini disendirikan, jangan dicampur dengan yang lain, uang ini khusus untuk santunan Fakir Miskin, jangan untuk yang lain)

Ya Alloh, sampai sebegitunya Abah memilah uang, padahal Rojabiyyah ini acara umum, uang ini akan dinikmati orang banyak, bukan untuk diri beliau sendiri atau keluarganya,,

Akhirnya, uang sumbangan dari pejabat, akan kami sendirikan, dan hanya untuk acara santunan fakir miskin. Mungkin, karena anak yatim dan kurang mampu memang tanggungan negara (pejabat) atau yang lain, saya tidak berani bertanya pada beliau tentang hal ini.

Rojabiyyah dimasa Pilkada

Ada masalah baru yang muncul setiap ada pilkada, baik Pilbup (Bupati) maupun Pilgub (Gubernur). Rojabiyyah bukan acara kecil, dengan pengujung mencapai angka 20 ribu orang (tahun 2020), ditambah pengaruh nama besar Abah Kyai, sungguh magnet yang menggiurkan bagi para calon untuk mencari masa demi meraup suara. Biasanya, beberapa hari sebelum acara, ajudan dari sang calon datang menemui panitia, menyatakan akan datang, minta susunan acara, resmi dan protokoler banget pokoknya.

Saya selalu matur Abah Kyai meminta arahan, beberapa kata yang saya ingat;

“Lek pengen teko yo kabeh, ojok salah siji, garai wong salah fahami darani aku dukung” (kalau ingin datang ya semuanya (kandidat), jangan hanya salah satu, nanti orang-orang (jama’ah) bisa salah faham, dikira aku mendukung (calon yang hadir)

“Gak popo ben teko, ben melu ngaji, pokok gak jaluk wektu sambutan, wes akeh sambutan e, tambah koyok lomba pidato, hehehe” (Tidak apa-apa kalau mau datang, biar ikut ngaji, asal tidak minta waktu untuk sambutan, sudah banyak sambutannya, nanti malah jadi kayak lomba pidato, hehehe). Sambil tertawa kecil khas beliau,

Selanjutnya, saya akan menghubungi ajudannya, menyampaikan keputusan dari Abah Kyai, “boleh datang, tapi mohon maaf tidak bisa memberi wkatu sambutan”, biasanya trus tidak jadi datang, hehe

Godaan Sponsor

Lepas dari godaan Pilkada, datanglah godaan sponsor. Beberapa macam sales Rokok, Mie, Minuman, dan lainnya pernah mengajukan tawaran pada panitia, bahkan sebagian mengajukan tips khusus buat saya, hmmmm. Rojabiyyah memang menggiurkan untuk para sales, 20 ribu orang hadirin, pasar produk yang potensial. Tapi ya namanya sponsor, harus ada timbal balik, mulai masang umbul-umbul, banner, stand. Saya pun matur meminta arahan;

“Ojo, aku iki jogo atine Jama’ah, donatur! Ojo sampek enek seng atine owah sebab delok onok umbul-umbul sponsor, ooo tibak e Rojabiyyah yo gae sponsor, podo ae koyok liyane” (Jangan, saya itu menjaga (keikhlasan) hati para jama’ah, donator. Jangan sampai ada yang hatinya goyah sebab melihat ada bendera sponsor, (hati mereka akan berkata) ooo ternyata Rojabiyyah juga pakai sponsor, sama saja kayak yang lain (hati mereka tidak lagi bisa ikhlas menyumbang Rojabiyyah).

“Lek pengen nyumbang, yo nyumbang ae, gak usah jaluk aneh-aneh, masang umbul-umbul, beber dagangan e, ta liyane. Nyumbang yo nyumbang, titik” (Kalau ingin menyumbang, ya sudah nyumbang saja, tidak usah minta yang aneh-aneh, pasang bendera, menggelar barang dagangannya, atau yang lain. Menyumbang ya menyumbang saja)

Hal yang sama juga terjadi saat ada salah satu stasiun TV yang berafiliasi ke NU ingin menayangkan acara Rojabiyyah, bisa live atau siaran tunda, tapi ujung-ujungnya juga pasang tarif dan minta pasang stand di lokasi. Saya yang saat itu masih unyu, sebenarnya juga tergiur, Rojabiyyah masuk TV rek, keren kan!.

Saat aturkan hal ini, Abah Kyai dawuh “Gak usah, gae opo, opomaneh malah kon bayar barang, lek pengen nyumbang soting yo nyoting ae, gak usah aneh-aneh” (Tidak usah, buat apa, apalagi malah minta kita membayar, kalau ingin menyumbang shooting ya silahkan shoting saja, tidak usah aneh-aneh).

Melatih Jama’ah untuk Bersedekah

Jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan Rojabiyyah, sebelum mulai Pengajian al-Hikam, Senin malam Selasa, Abah Kyai biasanya menghimbau jama’ah agar bersedekah untuk acara Rojabiyyah,

“Bapak Ibu engkang gadah ayam monggo nyumbang ayam, seng gadah beras njeh nyumbang beras, gadah e nopo?, brambang, bawang, Lombok, baju layak pakai?, mboten nopo-nopo, sedoyo ditampi kalian Panitia, ….” (bapak Ibu yang punya ayam, silahkan menyumbang ayam, yang punya beras, silahkan menyumbang beras, punyanya apa? Bawang merah, bawang putih, cabe, baju layak pakai? Tidak apa-apa, semua diterima oleh panitia”

Rindu masa-masa Rojabiyyah sebelum tahun 2010, beberapa pekan sebelum hari H, panitia menyediakan glangsing, para jama’ah datang mengaji hikam sambil membawa beras, ada yang 2 Kg, 3 Kg, 5 Kg, semampunya. Mendekati hari H, jenis sumbangan semakin heboh, ada yang datang bawa ayam atau bebek yang masih hidup, 2 atau 3 ekor, sambil berkata “ngapunten mas, gadah kulo namung niki” (maaf mas, saya hanya punya ini). Ada yang bawa telur ayam kampung sekian biji, “mboten nopo-nopo njeh mas, gadah kulo namung niki, kulo pengen derek nyumbang pokok e” (tidak apa-apa ya mas, yang saya punya hanya ini, pokoknya saya ingin ikut nyumbang (Rojabiyyah)”. Ada yang bawa tewel, gurami, kelapa, jagung, entah apa lagi, sangking banyaknya saya lupa.

Tapi hampir rata, saat menyerahkan mereka sambil berkata “mboten nopo-nopo njeh mas, gadah kulo namung niki, dawuh Kyai Jamal “sakwduwene” (tidak apa-apa ya mas, saya punyanya hanya ini, kata Kyai Jamal –sesuai yang dimiliki).

Antara senang, pengen nangis dan bingung mikir ini besok diapakan, kumpul jadi satu. Mak dek rasanya hati ini, ya Alloh, betapa kata-kata Abah Kyai meresap ke hati mereka, betapa kemudian mereka mau menyumbang apa yang mereka miliki, betapa sumbangan mereka, apapun bentuknya tetap diterima dengan senang hati. Mereka merasa dihargai, kemudian mereka merasa ikut memiliki Rojabiyyah (karena sudah nyumbang), timbul ikatan sebagai sesama murid Kyai Jamal.

Belakangan saya sedikit faham maksud kata-kata beliau “aku iki jogo atine Jama’ah, donatur! Ojo sampek enek seng atine owah sebab delok onok umbul-umbul sponsor”. Menjaga hati Jama’ah! Ya, Alloh sampai segitunya…

Menghormati Tamu

Memuliakan tamu, ini salah satu keistimewaan Abah Kyai yang levelnya sulit ditiru. Saat acara Kombinasi Sholawat ISHARI se Jawa Timur, yang biasa dilaksanakan pada hari Ahad malam Senin, dengan peserta kisaran 4 sampai 6 ribu orang. Acara dimulai setelah Jama’ah Sholat Isya, sekitar pukul 19.30 WIB dan baru selesai pukul 01.00 WIB dini hari, bahkan pernah sampai pukul 02.30 WIB dini hari. Demi untuk hurmat tamu, beliau tidak beranjak dari shofa depan dalem sejak acara dimulai hingga ditutupnya acara.

Dengan sangat telaten beliau menyambut Para Majlis Hadi, Pengurus ISHARI dan tamu lain, ngobrol ringan dengan mereka, benar-benar tidak ada jarak, santai, gayeng. Para Majlis Hadi sampai sungkan kalau tidak hadir, sebab kalau tidak datang pasti dicari dan ditanyakan oleh Abah Kyai, dan kalau datang akan ditemui dan ditunggui Abah Kyai hingga acara usai. “Namung ten mriki Kyai, acara ISHARI ditenggo Kyaine ngantos buyar” (Hanya disini (Rojabiyyah Al-Muhibbin) acara ISHARI yang ditunggui Kyainya sampau acara selesai), kata seorang anggota Majlis Hadi yang saya dengar langsung kala itu, Abah Kyai hanya membalas dengan tertawa kecil khas beliau.

Abah Kyai, yang usianya sudah lebih dari 70 tahun, masih kuat membersamai tamu hingga acara selesai, saya dan teman-teman sudah tepar di kantor pondok, dan baru bangun saat acara selesai untuk mencicipi sisa prasmanan di dalem. Ngapunten Kyai,

Suguhan tamu, juga termasuk hal yang sangat diperhatikan oleh Abah Kyai. Saya sampai lupa ada berapa perubahan bentuk prasmanan tamu VIP dalam acara Rojabiyyah, pernah prasmanan di dalem, ditata di meja seperti lumrahnya prasmanan.

Format berubah saat mengundang Habaib, maka beliau ingin menyesuaikan kebiasaan para Habaib, prasmanan model seperti ambengan, makan pakai tangan. Saat ada pembicara yang tidak mau prasmanan ke dalem setelah acara, beliaupun mengintruksikan agar saat pembicara datang, langsung diajak prasmana dulu di dalem.

Saat para Kyai rata-rata tidak mau ke dalem untuk prasmana seusai acara, beliau mengintruksikan agar prasmanan di antar ke meja VIP, meja depan panggung tempat para Kyai, agar semua tamu VIP, para Kyai dan Bu Nyai bisa prasmanan tanpa butuh geser tempat, prasmanannya yang didatangkan!
Ribet pastinya, tapi dari situ saya faham, Abah Kyai, Murobbi benar-benar pewaris akhlak Nabi dalam hal memulyakan tamu.

Jangan Pernah Lupa Berdzikir

Salah satu dawuh yang saya ingat betul saat awal-awal diamanahi jadi panitia Rojabiyyah tahun 2006 adalah saat sowan dengan wajah kusut karena takut dan bingung sebab masih banyak persiapan yang belum selesai, dengan nada kalem tiba-tiba beliau dawuh;

“Arek-arek Panitia Rojabiyyah kandanono, lek pas bertugas diusahakne tetep jogo wudhu, batal wudhu, batal wudhu. Karo atine ojo leren-leren nyebut Alloh, Alloh, Alloh, insyaAlloh kabeh bakal diparingi gampang karo Alloh” (Anak-anak panitia Rojabiyyah kamu bilangi, saat bertugas, diusahakan tetap menjaga wudhu (kesucian), batal wudhu lagi, batal wudhu lagi. Dan hatinya jangan pernah berhenti berdzikir Alloh, Alloh, Alloh. InsyaAlloh semua akan diberi kemudahan oleh Alloh).

Plaaak, kata-kata itu seperti menampar muka saya. Meski Abah Kyai memperhalus bahasa dengan memakai kata “arek-arek”, saya sadar betul bahwa saya belum melakukannya. Tanpa babibu, langsung saya ketik rapi dawuh itu dengan judul besar “Maklumat Pengasuh”, saya minta bagian Sekretariat untuk menempel disemua lokasi yang dilewati panitia.

Dawuh ini bukan benar-benar bertuah sekaligus malati, beberapa kali ada kendala di kepanitiaan, usut punya usut karena tidak mengindahkan dawuh Abah Kyai. Ada insiden kecelakaan, nasi gosong, telur pecah saat ambil di donator, dan banyak insiden lainnya. Maka menjadi adat yang baik di Rojabiyyah, misal di dapur, saat ada nasi yang waktunya diangkat tapi ada bagian yang belum matang, sang korlap, Ustadz. Abdul Jalil Arif (Gus Daniel Gondrong) akan mencak-mencak, dan berkata dengan nada tinggi “Iki Jelas enek seng batal wudhu, ayo seng batal dang wudhu” (ini jelas ada yang batal wudhunya, ayo yang batal wudhunya segera wdhu lagi).

Rojabiyyah, Sarana Abah Kyai Untuk Mentarbiyah Santri dan Jama’ah

Tahun 2020, kebutuhan rojabiyyah mendekati angka 1 milyar. Jumlah panitia lebih dari angka seribu orang, tidak hanya santri pondok, tapi juga jama’ah al-hikam, ahad legi, SA 78, RT/RW, termasuk juga jama’ah yang jadi banser, polisi, pejabat, dosen, sampai perias pengantin dan lainnya (50 an perias, dengan sukarela menyumbang riasan untuk acara Pengantin Massal, tanpa diminta dan tidak meminta imbalan apa-apa, siapa yang menggerakkan mereka dan ribuan orang lainnya?). Andai tidak ada Abah Kyai, figur yang mampu menggerakkan hati dan mempersatukan semuanya, tak terbayang beratnya mengemban amanah ini.

Saya melihat Rojabiyyah bukan hanya sebagai rangkaian acara seremonial belaka, yang ukuran kesuksesannya hanya dilihat dari kelancaran dan gemerlapnya acara. Tapi bagi saya, Rojabiyyah adalah “Kelas Belajar” yang sengaja dibuat oleh Abah Kyai untuk mengajari semua santri dan jama’ah nya, tentang bagaimana belajar bergaul dengan baik dan santun, belajar memulyakan tamu dengan semaksimal mungkin, belajar bersedekah agar tidak lagi terasa berat, belajar mengabdi dengan ikhlas, belajar melakukan segala hal hanya karena Alloh, belajar terus berdzikir disetiap waktu dan tempat, dan belajar banyak hal baik lainnya,

Saya tidak menemukan adanya konflik berarti dalam Rojabiyyah meski dengan jumlah panitia sebanyak itu, dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda, tidak ada kesenjangan usia, pangkat dan lainnya, sebab kesemuanya dalam satu visi, “mengabdi pada Kyai”. Para Alumni dan Donatur hanya butuh di ingatkan dengan kata “wayahe-wayahe” atau kita buatkan tagar “#Rojabiyyah Memanggil#”, mereka akan tergerak sendirinya.

Saya teringat sabda Nabi yang sering disampaikan Abah Kyai “man atha’Alloh atha’ahu kullu syain” (Barang siapa yang ta’at kepada Alloh, maka segala sesuatu akan ta’at padanya). Bukti hadits ini saya temukan dalam sosok Abah Kyai. “Kyai Djamal” betapa saktinya nama ini….

Matur suwun sanget Abah Kyai, telah diberi kesempatan belajar banyak hal dengan diamanati Rojabiyyah,

Jombang, 02 Maret 2022

Miftahul Ulum
Santri yang Pernah diamanati Menjadi Panitia Rojabiyyah.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan