Saturday, 02-03-2024
  • Situs resmi Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang || Informasi Pendaftaran ~~ DIBUKA PADA 01 Februari 2024

IBN ‘ARABI DAN KELAHIRAN OTTOMAN (DINASTI TURKI USMANI)

Diterbitkan : - Kategori : Berita / Karya Santri / Pendidikan

 



Tak lama sesudah tahun 1730, ketika pertempuran antara Ottoman vis a vis Iran usai, Orang-orang Iran mengirim utusan ke Istanbul (ibu kota Ottoman atau Usmaniyah atau Turki Utsmani). Diskusi yang membincang gencatan senjata dan atau rekonsiliasi itu, sebagaimana terbaca dalam Bibliotheque Suleimeniye (Koca Raghib Pasha), dimulai dengan sambutan pihak Iran yang menyebut bahwa Ottoman layak dipuji karena tiga hal:

Pertama, Nabi Muhammad sempat menyinggung mereka, dalam prediksi beliau ihwal penaklukan Konstantinopel (Conquest of Constantinople).

Kedua, ramalan Ibn ‘Arabi, yang disebut sebagai sang Lidah Kebenaran (the Tongue of the Truth/Lisan al-Haqiqah), seputar Dinasti Utsmani dalam Kitab al-Syajarah al-Nu’maniyah.

Ketiga, teritori Ottoman yang diperoleh melalui Perang Suci (Holy War), sesuatu yang tak dapat dilakukan oleh bangsa Iran.

Salah satu yang menarik dari isi pidato di atas adalah kesan “keterlibatan” Ibn ‘Arabi dalam momentum kelahiran Dinasti Utsmani. Seperti disebut, Ibn ‘Arabi konon telah menujum keberadaan imperium Islam yang sempat bertahan sepanjang lebih dari separuh milenium itu. Karenanya Syaikh Ibrahim al-Kayyali menyebut, “Ibn Arabi telah sejak lama membincang Daulah Utsmaniyah, juga peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya, entah peristiwa biasa maupun momentum politik.”

Apakah Ibn ‘Arabi betul, langsung ataupun tak langsung, berkaitan dengan lahirnya Kesultanan Utsmani!?

Tak ada yang secara meyakinkan dapat menjawab pertanyaan itu. Namun, sejumlah peneliti menduga kemungkinan pertemuan Ibn ‘Arabi dengan para perintis Ottoman.

Adalah Ertugrul Bey yang diperkirakan sempat berguru kepada Ibn ‘Arabi. Ertugrul, atau juga ayahnya, Sulaiman Bey, merupakan para pemimpin cum pejuang dari salah satu Beylik, kelompok-kelompok kecil Bangsa Turki yang berperang di bawah komando Dinasti Seljuk. Beylik Ertugrul inilah satu-satunya yang tersisa pada saat Bangsa Mongol berhasil meluluhlantakkan Seljuk. Dan di bawah kepemimpinan anak Ertugrul, yakni Utsman Bey (Founding Father Dinasti Utsmani), Beylik yang dipertahankan Ertugrul berkembang menjadi kesatuan politik yang independen, menggantikan Dinasti Seljuk.

Ertugrul dan Ibn ‘Arabi kemungkinan berjumpa di Konya, salah satu pusat kekuasaan Seljuk. Anda yang membaca karya Claude Addas, Quest for The Red Sulphur, akan tahu bahwa Ibn ‘Arabi melakukan perjalanan dari Andalusia ke Timur, dan untuk beberapa lama sempat bermukim di Konya. Di kota inilah Ibn ‘Arabi menikahi seorang janda beranak satu. Sang putera, yang kemudian menjadi salah satu murid utama Ibn ‘Arabi, kelak dikenal dengan nama Shadruddin al-Qunawi.

Di Konya, Ibn ‘Arabi memang menjalin pertautan dengan banyak orang. Salah satu yang juga dimungkinkan bertemu dengan Ibn ‘Arabi adalah Bahauddin Walad, seorang sufi sekaligus ayah dari Jalaluddin Rumi. Menurut Mustafa Tahrali, itulah barangkali muasal kenapa pada akhirnya Rumi bertahun-tahun belajar di Damaskus, tempat Ibn ‘Arabi berdiam sampai akhir hayatnya. Bahwa Rumi dimungkinkan berguru kepada Ibn ‘Arabi. Rumi sendiri belakangan tercatat sebagai salah satu kawan kental al-Qunawi.

Hubungan antara Ibn ‘Arabi dan para perintis Utsmani, terutama Ertugrul, ini menjelaskan kenapa para pengikut Ibn ‘Arabi (para Akbarian) mendapat penghormatan dan respek yang besar di lingkungan istana. Sebagai contoh, Daud al-Qaishari, yang merupakan cucu murid dari al-Qunawi, diangkat oleh Orhan Bey (anak Utsman Bey) sebagai guru dan direktur Madrasah di Iznik. Itu adalah madrasah pertama yang didirikan oleh Ottoman. Selebihnya, seturut catatan Mustafa Tahrali, selama berabad-abad kemudian, para ulama Akbarian senantiasa mendapat panggung dalam kekuasaan Ottoman.

Dramatisasi kisah antara Ibn ‘Arabi dan Ertugrul belakangan diangkat menjadi Serial Televisi Turki dengan judul Dirilis: Ertugrul (Resurrection: Ertugrul). Di sini, Ibn ‘Arabi digambarkan sebagai guru spiritual, yang kerap tiba-tiba datang, entah dari mana, membagikan petuah yang membangkitkan semangat Ertugrul. Serial yang berulangkali menjadi nominasi dan beberapa kali menyabet penghargaan Golden Palm itu juga tayang di Netflix.

Dari sini, diketahui bahwa Ibn ‘Arabi betul memiliki keterikatan yang signifikan dengan Dinasti Utsmani. Paling tidak, para pengikutnya (Akbarian) terbukti menduduki peranan penting di dalam kekuasaan Ottoman.

Akan halnya kitab al-Syajarah al-Nu’maniyah, risalah yang berisi ramalan-ramalan Ibn ‘Arabi tentang Utsmaniyah, banyak yang meragukan apakah ia betul dikarang Ibn ‘Arabi atau tidak. Meskipun demikian, Mustafa Tahrali memberi komentar:

“If the work itself is doubtful, could not the prediction which announced the foundation of the Ottoman state, and certain events concerning it, have been made by Ibn ‘Arabî during his lifetime, and written down later?

(Jika karya itu sendiri diragukan, tidak bisakah ramalan yang mengumumkan berdirinya negara Ottoman, dan peristiwa-peristiwa tertentu tentangnya, telah dibuat oleh Ibn ‘Arabî selama hidupnya, dan ditulis kemudian?)”

Di masa kini, salah satu versi al-Syajarah al-Nu’maniyah diterbitkan oleh Dari al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Itupun sudah bercampur dengan Syarah (Komentar) dari al-Qunawi. Tetapi yang menarik dari kitab ini adalah terdapat sejumlah ujaran yang aneh, diantaranya:

إذا دخل السين في الشين يظهر قبر محي الدين

(Ketika ‘Sin’ masuk ke dalam ‘Syin’, maka tampaklah kubur Muhyiddin)

Pernyataan Ibn ‘Arabi ini tidak dimengerti pembaca pada masanya, dan baru dapat dipahami kelak, berabad-abad kemudian.

Belakangan diketahui, bahwa yang dimaksud dengan ‘Sin’ adalah Salim I, Sultan Utsmani ke-9 yang berhasil menghancurkan Kesultanan Mamluk dan membendung pergerakan Dinasti Syafawi, serta karenanya membuat wilayah Ottoman meluas secara drastis. Peristiwa yang terjadi pada Abad ke -16 (empat abad sesudah Ibn ‘Arabi) ini kemudian diromantisasi sebagai momentum pertama Ottoman menguasai seluruh dunia Islam. Sementara ‘Syin’ dalam pernyataan itu adalah negeri ‘Syam’, salah satu kawasan yang direbut Sultan Salim I dari Dinasti Mamluk, selain Mesir dan Hijaz.

Benar saja, Sultan Salim-lah orang yang pertama menemukan lokasi makam Ibn ‘Arabi pada saat kedatangannya di Damaskus. Ia kemudian dicatat sebagai orang yang merenovasi makam Sang Syaikh Akbar, serta membangunkan sebuah masjid di area itu. Masjid yang hari-hari ini dikenal sebagai Masjid Muhyiddin Ibn ‘Arabi itu dulu bernama “Al-Khan Kar” (Sulthan ‘Azhim atau Raja Besar); masjid yang pertama dibangun Dinasti Utsmani di Damaskus.

Demikianlah, sejauh berhubungan dengan Sultan Salim, maka menjadi terang benderang-lah siapa yang dimaksud dengan ‘Sin’ dalam penyebutan-penyebutan Ibn ‘Arabi. Seperti ujarannya:

يا سين أنت صاحب التمكين لك الظهور وأنت المؤيد المنصور

(Wahai Sin, engkaulah empunya kekokohan. Bagimu kecemerlangan. Engkaulah yang mendapat dukungan dan pertolongan.)

Ket. Gambar: (ki) Poster Ibn Arabi dalam Serial Dirilis: Ertugrul; (ka) Sampul kitab al-Syajarah al-Nu’maniyah cetakan DKI.

Tulisan Lukman Hakim Husnan, Alumni.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan