Saturday, 02-03-2024
  • Situs resmi Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang || Informasi Pendaftaran ~~ DIBUKA PADA 01 Februari 2024

LENTERA DI PULAU BALI

Diterbitkan : - Kategori : Abah / Berita / Pendidikan / Uncategorized

 

Ada secercah cahaya, yang kami dapati di antara lentera-lentera di Pulau Bali. Pulau dengan pemandangan alamnya yang eksotis dan wisata pantainya yang indah menyuguhkan panorama keindahan surga dunia.

Sepanjang perjalanan di Pulau Bali, rombongan Ziarah dan Rihlah kami melihat pemandangan unik tentang pura (tempat ibadah umat Hindu) yang ada hampir di setiap sudut-sudut rumah penduduk. Oleh karenanya Bali selain disebut sebagai Pulau Dewata disebut juga sebagai pulau seribu pura, ritual keagamaan yang kental mempengaruhi hampir seluruh unsur dan gerak kehidupan masyarakat di Bali. Hal ini yang menjadikan Bali tidak hanya memiliki pemandangan yang indah tetapi juga unik eksotis dan budaya yang terjaga.

Ulasan tentang kebudayaan Bali dan sejarah para wali Bali yang disampaikan oleh guide/pendamping wisata, menambah suasana perjalanan kami menjadi semakin bergairah, sejenak seakan mengajak kami berkelana di alam nyata di Pulau Dewata .

Tentang bahasa dielek penduduk setempat yang terkadang sedikit terdengar geli di telinga, hingga cerita tradisi beberapa perayaan besar umat Hindu di antaranya hari raya Nyepi, hari raya Galungan, hari raya Kuningan , hari raya pagerwesi (di peringati setiap 210 hari) dan perayaan pembakaran jenazah yang biasa di sebut ngaben. Tiga hari rasanya belum puas kami memaknai setiap detail budaya dan pesona Pulau ini.

Bagi kami sebelumnya, agama Hindu hanyalah sekedar tentang patung-patung arca dan sesaji, ternyata Hindu dan Bali tak ubahnya seperti perjalanan taqdir sejarah.
Sejarah yang menjadikan begitu indahnya Islam masuk dan berkembang di Indonesia .

Di balik keramahan penduduk yang mayoritas beragama Hindu ini, siapa sangka banyak Makam Waliyullah yang tersebar di beberapa kota di Pulau Bali. Menurut sebagian ahli sejarah, Islam masuk di Pulau Dewata di perkirakan semenjak abad ke XVI M, tepatnya berada di Kabupaten Klungkung. Jejak perjuangannya bila kita telisik saling berkaitan dengan sejarah para waliyullah yg ada di lintas pulau dan negara di zamannya.

Sebut saja Raden ayu Siti Khodijah yang ada kaitan sejarahnya dengan makam air mata ibu di Bangkalan Pulau Madura, begitu juga syekh Abdul Qadir Muhammad (Kwan Pau lie) dengan sunan gunung jati di Cirebon.

Ada 7 tempat makam yang kami ziarahi, yang lebih di kenal oleh travel biro perjalanan wisata sebagai wali pitu, meskipun kami meyakini makam waliyullah di pulau Bali ini jumlahnya lebih banyak dari yang sudah kami ziarahi.

Wali pitu tersebut adalah :
1. Habib Ali bin Umar bafaqih
2. Habib Ali bin Zainal Abidin Al Idrus
3. Syekh Maulana Yusuf Al baghdi al Maghribi
4. Habib Ali bin abu bakar Al hamid
5. Raden ayu Siti Khodijah
6. Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi
7. Syekh Abdul Qadir Muhammad (Kwan Pau lie)

Malam semakin larut ketika kapal yang kami tumpangi kian melaju jauh dari pemandangan pulau Bali. Udara dingin dan goyangan landai kapal laut tiba tiba melamunkan pikiran kami, tentang kisah para kekasih Allah yang menyebar luaskan agama Islam menyeberangi lautan dari negara ke pulau negara lain, dari satu kerajaan ke kerajaan lain.

Telepati hati dan keyakinannya melebihi alat komunikasi dan transportasi yang berkembang di era saat ini, tetapi jejak perjuangan dan barokahnya masih terasa abadi terkenang hingga saat ini.
Proses ekspansi dakwah dan akulturasi yang apik dan dinamis menurut pandangan kami.

Siapa yang mengenalkan mereka kepada kami, hingga kami rela datang jauh menziarahi.
Tiba2 tulisan kami terhenti…

Mereka adalah kekasih Allah.
(Yang mencintai dan di cintai)

Berkaca dari catatan kisah sejarah pada diri kami sendiri, seakan ada nanar menatap jalan menuju pulang,
“Bagaimana dengan kami” ?

Bu Nyai Muhimmah Falasifah

Bali
22122023

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan