Saturday, 02-03-2024
  • Situs resmi Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang || Informasi Pendaftaran ~~ DIBUKA PADA 01 Februari 2024

LOKASI ALAM AKHIRAT

Diterbitkan : - Kategori : Karya Santri / Pendidikan

 

Kiamat adalah sebetulnya peristiwa yang didahului oleh proses yang cukup panjang. Ada sekian banyak momentum, diantara yang paling masyhur adalah kemunculan Dajjal, keterlepasan Yakjuj Makjuj, kepemimpinan Al-Mahdi dan Nabi Isa, dan lain-lain, sampai kemudian seluruh manusia dibikin mati dan, pada fase berikutnya, dibangkitkan oleh Allah Swt. Itulah sebabnya Kiamat disebut dengan Yaum al-Qiyamah, yang secara harfiah berarti ‘Hari Kebangkitan’.

Pada QS. Ghafir ayat 15, kiamat juga ditengarai sebagai Yaum al-Talaq (Hari Pertemuan). Imam al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib (Juz. 27, Hlm. 299), melansir banyak model pemaknaan terkait Hari Pertemuan ini, diantaranya:

(1) Perjumpaan kembali antara tubuh dan ruh manusia, yang selama ini terpisah akibat kematian; (2) Pertemuan manusia antara satu dengan lain, bahkan dan terutama bagi yang belum sempat ketemu sama sekali; (3) Pertemuan antara penduduk langit dan masyarakat bumi, yang selama ini terpisah oleh perbedaan dimensi; (4) Perjumpaan manusia dengan amal perbuatan yang dilakukannya selama di dunia; dan (5) Pertemuan manusia dengan Penciptanya.

Pendek cerita, istilah kiamat mewakili permulaan bagi periode Akhirat: siklus terakhir dalam kehidupan manusia, yang selama ini kerap disalahpahami sebagai telah usai ketika mereka mati. Pada saat inilah mereka dibangkitkan, dipertemukan, dikumpulkan, dan dibalas amal perbuatannya selama di dunia. Itulah sebab kenapa kiamat juga disebut dengan Yaum al-Din (Hari Pembalasan).

Persoalannya adalah, jika bukan pertanyaan kapan, di manakah seluruh rangkaian kehidupan ukhrawi ini terjadi!? Di manakah alam akhirat!?

Allah menegaskan bahwa kiamat adalah juga momentum ketika bumi (yang kita tempati ini) diganti dengan bumi yang lain (atau dengan sesuatu selain bumi). Langit pun juga demikian: ditukar dengan yang lain.

ﻳﻮﻡ ﺗﺒﺪﻝ اﻷﺭﺽ ﻏﻴﺮ اﻷﺭﺽ ﻭاﻟﺴﻤﺎﻭاﺕ ﻭﺑﺮﺯﻭا ﻟﻠﻪ اﻟﻮاﺣﺪ اﻟﻘﻬﺎﺭ

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.” (QS. Ibrahim: 48)

Dari sini, sebagian kita barangkali membayangkan mekanisme transisi dari alam dunia menuju alam akhirat yang serba dramatis. Seperti diimajinasikan oleh al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi (Juz. 13, Hal. 168), bumi jadi hancur berkeping-keping, menguap hilang begitu saja (ka al-dukhan al-muntasyir). Lalu tetiba muncul daratan yang sama sekali berbeda, yang menandai awal dari kehidupan yang sama sekali baru, alam akhirat.

Gagasan tentang kehancuran bumi, atau juga dapat berarti kehancuran alam semesta, diamini oleh al-Qurthubi. Bahkan menurutnya, teori tentang izalah (keraiban) inilah sebenarnya merupakan pendapat yang tepat (shahih).

ﻭﺃﻥ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﺇﺯاﻟﺔ ﻫﺬﻩ اﻷﺭﺽ ﺣﺴﺐ ﻣﺎ ﺛﺒﺖ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

“Yang tepat adalah bahwa bumi ini akan dihapuskan berdasarkan penjelasan dari Nabi Saw.” (Al-Jami’ li Ahkam al-Quran Juz. 9, Hal. 383)

Penjelasan Nabi seperti yang dimaksudkan al-Qurthubi adalah diantaranya hadits dari Sayyidah Aisyah, yang suatu saat bertanya kepada beliau, “Lantas di manakah manusia saat bumi ini ditukar dengan yang lain?” Nabi pun menjawab, setelah memberitahu Aisyah bahwa pertanyaan macam itu belum pernah dilontarkan oleh seorangpun, “(mereka berada) di atas shirath.”

Shirath, yang secara harfiah berarti titian atau jembatan, ini dapat dimaknai sebagai “alam antara”, atawa semacam halte, tempat di mana manusia bakal diantar menuju alam berikutnya. Sebab dalam hadits lain, ketika Nabi ditanya perihal yang sama oleh sejumlah rahib Yahudi, beliau menjawab, “dalam kegelapan di depan jembatan (fi al-zhulmah duna al-jisr)”. Uraian tentang keberadaan manusia pada fase transisi dari dunia menuju akhirat ini dapat ditemukan diantaranya dalam Ma’alim al-Tanzil-nya al-Baghawi (Juz 3 Hlm 48).

Sementara itu, di banyak tempat, ditemukan penjelasan yang berbeda. Al-Razi, umpamanya, menyatakan kemungkinan bahwa alam akhirat adalah juga dunia ini (Mafatih al-Ghaib Juz. 9 Hlm. 112). Adapun tabaddul (peralihan atau pergantian) seperti diinformasikan dalam QS. Ibrahim di atas dapat dimengerti sebagai perubahan dari aspek kualitas (sifat) belaka, bukan dari sisi esensi (dzat): tabdil al- shifat la tabdil al-dzat. Dengan demikian, tabaddul di sini hanya sekedar taghyir (perubahan wujud) saja, bukan izalah (penghancuran), dan akhirat sebetulnya adalah tingkat lanjut dari wujud semesta duniawi yang ini-ini juga.

ﻭﻫﺬا ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺃﺟﺰاء اﻷﺭﺽ ﺑﺎﻗﻴﺔ ﻟﻜﻨﻬﺎ ﺟﻌﻠﺖ ﻏﻴﺮ اﻷﺭﺽ
“Hal ini menunjukkan bahwa bagian-bagian bumi tetap utuh, akan tetapi (wujudnya) tak lagi seperti bumi.” (Mafatih al-Ghaib Juz. 22 Hlm. 191)

Lho, kalau betul begitu, kalau benar bumi tetap utuh, lantas apa relevansi dari pernyataan bahwa “semuanya akan musnah”? Bukankah, seperti dalam QS. Al-Qashash: 88, kullu syaiin halikun illa wajhah (seluruhnya hancur kecuali Dzat-Nya)!?

Exactly! Tetapi, menurut al-Razi, halak (rusak) juga dapat bermakna mati (imatah) atau cuma sekedar ketercerai-beraian bagian-bagiannya (tafriq al-ajza’) saja, tanpa berarti hancurnya bagian-bagian tersebut sama sekali. “Baju rusak (halaka al-tsaub), misalnya,” kata al-Razi, “bukan berarti bagian-bagian baju tersebut hancur, melainkan sekedar tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.” (Mafatih al-Ghaib Juz. 25 Hlm. 20)

Lebih jauh, Ibn ‘Athiyah mengutip pernyataan sebagian mufassir bahwa proses perubahan dunia menjadi akhirat ini terjadi dengan meratakan pegunungan dan meluapkan lautan, seperti diilustrasikan dalam QS. Al-Takwir (jibalu suyyirat; biharu sujjirat, dan seterusnya). Ia juga menukil Qadhi Abu Muhammad:

ﺃﻥ اﻟﺘﺒﺪﻳﻞ ﻳﻘﻊ ﻓﻲ اﻷﺭﺽ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺒﺪﻝ ﻟﻜﻞ ﻓﺮﻳﻖ ﺑﻤﺎ ﺗﻘﺘﻀﻴﻪ ﺣﺎﻟﻪ، ﻓﺎﻟﻤﺆﻣﻦ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺧﺒﺰ ﻳﺄﻛﻞ ﻣﻨﻪ ﺑﺤﺴﺐ ﺣﺎﺟﺘﻪ ﺇﻟﻴﻪ، ﻭﻓﺮﻳﻖ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻓﻀﺔ- ﺇﻥ ﺻﺢ اﻟﺴﻨﺪ ﺑﻬﺎ- ﻭﻓﺮﻳﻖ اﻟﻜﻔﺮﺓ ﻳﻜﻮﻧﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﺎﺭ

“Penggantian terjadi di bumi. Hanya saja wujud perubahan berlaku berbeda bagi setiap kelompok manusia. Orang beriman menemukan tanahnya sebagai roti, yang setiap saat dapat mereka makan. Sebagian yang lain mendapati perak –apabila riwayat tentangnya tepat. Dan orang kafir menginjak buminya sebagai bara api.” (Al-Muharrar al-Wajiz Juz 3 Hlm 347)

Sejauh terkait wujud terbaru semesta ini kelak, di periode akhirat, Al-Razi memperkirakan bahwa bumi inilah lokasi sesungguhnya dari neraka, berdasarkan ayat ﺇﻥ ﻛﺘﺎﺏ اﻟﻔﺠﺎﺭ ﻟﻔﻲ ﺳﺠﻴﻦ. Sementara langit adalah lokasi dari surga, seperti dalam ayat ﺇﻥ ﻛﺘﺎﺏ اﻷﺑﺮاﺭ ﻟﻔﻲ ﻋﻠﻴﻴﻦ.

Penegasan mengenai hal ini penting mengingat pertanyaan-pertanyaan semisal, “Kalau demikian, di manakah surga dan neraka sekarang? Bukankah Nabi Muhammad Saw pernah mengunjungi keduanya!?”

Dalam perspektif teori taghyir, problem macam itu dapat dijawab dengan bahwa surga telah sejak lama berada di langit, dan neraka sudah ada di lapis terdalam dari bumi. Kemungkinan, pada hari kiamat, fakta ini akan menjadi kian eksplisit: bahwa bumi sepenuhnya akan jadi neraka dan langit akan sepenuhnya jadi surga. Dalam sebuah hadits dari Ibn Mas’ud disebutkan:

الجنة في السماء الرابعة, فإذا كان يوم القيامة جعلها الله حيث شاء, والنار في الأرض السابعة فإذا كان يوم القيامة جعلها الله حيث شاء

“Surga ada di langit keempat. Pada hari kiamat, Allah menjadikannya sesuai kehendak-Nya. Neraka ada di bumi ketujuh. Pada hari kiamat, Allah menjadikannya sesuai kehendak-Nya.”

Dari sini Ibn al-Jauzi menyimpulkan bahwa pendapat mengenai proses transisi dunia-akhirat terakumulasi dalam dua arus argumen. Pertama, bahwa semesta duniawi ini akan hancur sehancur-hancurnya, lalu belakangan diganti dengan semesta yang baru. Bumi, umpamanya, digantikan dengan bumi lain selaiknya perak (Ibn ‘Abbas), diubah jadi neraka (Ubaiy bin Ka’ab), ditukar bumi lain yang terbuat dari perak (Anas bin Malik), diganti dengan tanah roti (Abu Hurairah, Said bin Jabir, dan lain-lain).

Kedua, bahwa semesta akhirat adalah semesta yang ini juga, namun dengan beberapa banyak modifikasi. Misalnya, bumi diperluas sedemikian rupa, hingga jadi mampu menampung seluruh umat manusia dari awal sampai akhir penciptaan. Lantas ditiadakanlah pepohonan juga gunung gemunung, sehingga situasinya mirip dengan padang (Abu Hurairah dan Abu Shalih dari Ibn Abbas). (Zad al-Masir fi ‘Ilm al-Tafsir Juz 2 Hlm 520)

Yang menarik dari seluruh uraian tentang transisi dunia-akhirat adalah al-Maraghi. Menurutnya, deskripsi al-Quran tentang tabdil al-ardh (pergantian bumi) amat sesuai dengan pengetahuan modern (al-‘ilm al-hadits), bahkan ia menganggapnya sebagai bagian dari mukjizat al-Quran.

Dalam perspektif astronom modern (ulama al-falak), segala benda langit (termasuk matahari dan bumi) bermula dari bola api yang melayang di cakrawala (kurrah nariyah harrah thairah fi al-fadha). Bola ini menghasilkan matahari. Dari matahari, muncullah planet-planet yang diantaranya adalah bumi. Dari bumi kemudian lahirlah bulan. Proses ini memakan waktu berjuta-juta tahun, setelah masing-masing beredar di orbitnya. Nah, menurut al-Maraghi, setelah berjuta tahun lagi, bisa saja akan muncul bola api baru, dan kemudian melahirkan matahari dan bumi yang berbeda. Bumi baru, matahari baru, atau pendeknya galaksi baru inilah yang kelak kita sebut sebagai akhirat. (Tafsir al-Maraghi Juz 13 Hal 169)

Jika betul demikian, bolehkah kita pada akhirnya membayangkan bahwa surga dan neraka adalah sebetulnya planet-planet yang bertebaran di galaksi bernama akhirat? Bumi adalah neraka, tempat manusia-manusia laknat dihukum, sementara nun jauh di sana, di sebuah planet yang bernama surga, orang beroleh segala wujud nikmat yang tak pernah sama sekali dilihat atau didengar (ma la ‘ainun ra’at wa la udzunun sami’at) di bumi yang lama?

Kita tak akan pernah benar-benar tahu. Tapi, yang jelas, seperti dinyatakan al-Thabari, proses peralihan dunia menuju akhirat dapat terjadi bagaimana saja. Wujud perubahannya pun dapat berbentuk apapun jua. Tidak terdapat informasi yang secara tegas dapat dijadikan sebagai patokan. “Tidak ada pendapat yang tepat,” kata al-Thabari, “ketimbang makna lahiriyah dari ayat.” (Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran Juz 17 Hal 52)

Demikianlah, satu-satunya informasi yang terang benderang adalah bahwa di akhirat inilah, seluruh manusia dibangkitkan kembali, dan lalu diminta pertanggungjawaban. Yang baik dapat nikmat, yang jahat dapat laknat. Itu saja.

Wallahu a’lam bisa shawab.

Lukman Hakim Husnan, Alumni BD Al Muhibbin

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan