Saturday, 02-03-2024
  • Situs resmi Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang || Informasi Pendaftaran ~~ DIBUKA PADA 01 Februari 2024

MENGAJARKAN ILMU ADALAH REKREASI SEORANG GURU

Diterbitkan : - Kategori : Uncategorized

 

Mbah Djamal pernah Dawuhan:

“Sak sibuk-sibuk e awakmu kudu tetep nyempetne Ngaji karo Ngajar”

“Sesibuk-sibuknya kalian, kalian harus tetap menyempatkan waktu untuk mengaji dan mengajar”

Mungkin di antara kita masih ada yang kurang percaya diri atau demam panggung ketika kita mendapat tanggung jawab mengajar.

Kususnya ketika sudah terjun di masyakat. Terkadang beberapa alumni merasa kurang PD di bab ini.

Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi al-Basri al-Syafi’ (364-450 H) dalam kitabnya “Adabud Dunya wa Din, Hal. 54” menukil dawuh Syeikh Kholil Bin Ahmad:

اجعل تعليمك دراسة لعلمك واجعل مناظرة المتعلم تنبيها على ما ليس عندك

“Jadikanlah Mengajar sebagai kesempatan memperdalam Ilmumu dan jadikanlah kritikan para pelajar sebagai pengingat apa yang tidak kau ketahui”.

Mengamati dawuh Syeikh Kholil di atas, hakikatnya aktiftas mengajar itu menjadi sarana-prasana bagi seorang santri untuk Ziyyadatu al-Ilmi wa Itqonu al-Hifdzi (Menambah ilmu dan mengasah hafalan). Artinya dengan kita mengajar secara tidak langsung kita mendapatkan dua kemanfaatan.

1. Mengkaji ilmu itu sendiri (mengaji)
2. Memperdalam-merefresh ilmu yang dulu pernah diajarkan oleh guru kita.

Sehingga wajar saja ketika Mbah Djamal mengistilahkan aktifitas mengajar dengan, “Mengajar Adalah Rekreasianya Seorang Guru”.

Karena dengan kita mengajar kita akan mendapatkan manfaat dua point di atas secara bersaamaan. Di mana dua point di atas tidak bisa di raih oleh santri yang menstatuskan dirinya sebagai mustami’ saja.

Guru kita, Romo Yai Idris Djamaluddin, pernah Dawuh :

“Kita sebagai santri agar selalu menyampaikan ilmu. Walaupun kita terkadang belum bisa mengamalkannya. Karena, terkadang orang yang di sampaikan ilmu itu lebih bisa mengamalkan dari pada kita. Sehingga dengan begitu, tradisi ilmu tidak akan berhenti. Kalau hanya dengan alasan belum bisa mengamalkan kemudian tidak mau menyampaikan maka tradisi ilmu akan berhenti. Tapi yang lebih bagus memang di dengarkan, di amalkan kemudian di sampaikan.”

Ahmad Hafidz Amrullah, Santri Al Muhibbin.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan


Post Terkait

PEREMPUAN DAN POLITIK

Thursday, 11 Jan 2024

LENTERA DI PULAU BALI

Sunday, 7 Jan 2024