Saturday, 02-03-2024
  • Situs resmi Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang || Informasi Pendaftaran ~~ DIBUKA PADA 01 Februari 2024

PEREMPUAN DAN POLITIK

Diterbitkan : - Kategori : Uncategorized

 

Manusia adalah Khalifah Tuhan di bumi . Tugasnya adalah memakmurkan bumi untuk kesejahteraan manusia. (Q.S Al Baqarah (2):30, dan QS Al Huud (11): 61 ) Teks suci tersebut yang telah mengisyaratkan keharusan manusia untuk berpolitik.

Dalam wacana Islam, politik (as siyasah) secara sederhana di rumuskan sebagai cara mengatur urusan-urusan kehidupan bersama untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Maknanya begitu luas seluas ruang kehidupan itu sendiri.

Dalam wacana politik Islam klasik juga di jelaskan bahwasanya mengangkat pemimpin adalah wajib dalam kategori fardhu kifayah. Eksistensi pemerintahan seperti yg di kemukakan oleh imam Mawardi, di perlukan untuk melindungi agama dan pengaturan dunia. Semakin banyak warga yg berpartisipasi di dalamnya, tentunya legitimasi kekuasaan akan semakin kuat dan relatif lebih menjamin stabilitas.

Perempuan dan laki-laki adalah makhluq tuhan yang sama dan sama-sama saling bekerja sama untuk mewujudkan tanggung jawab kemanusiaan, memakmurkan bumi dan mensejahterakan manusia. Al Quran juga menegaskan akan adanya balasan yang sama bagi laki-laki dan perempuan atas pekerjaan-pekerjaan politik tersebut. Sejarah kenabian banyak mencatat peran besar perempuan yang ikut memainkan peran-peran ini bersama kaum laki-laki. Sebut saja Khodijah Ra, Aisyah Ra, Ummu Salamah Ra dan istri-istri Nabi yang lainnya. Mereka juga sering terlibat diskusi tentang tema-tema sosial dan politik. Bahkan Umar bin Khottob juga pernah mengangkat asy Syifa, seorang perempuan yg cerdas dan terpercaya untuk menjabat sebagai manajer pasar di Madinah.

Sayangnya dalam sejarah politik kaum muslimin, partisipasi politik perempuan mengalami proses degradasi dan reduksi secara besar-besaran. Ruang aktivitas perempuan hanya di batasi pada wilayah domestik dan di posisi kan sebagai makhluq nomer dua (subordinasi). Sehingga kisah-kisah tentang peran tokoh perempuan semenjak wafatnya Nabi Muhammad Saw dan masa Khulafaur Rasyidin sampai pada awal abad ke 20 tidak banyak di tampilkan. Hampir tidak di temukan sebuah pandangan klasik dan kebudayaan lama yg memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan perempuan.

Pandangan-pandangan klasik tersebut kini mulai berhadapan dengan ruas-ruas modernitas yang terbuka lebar. Keterbukaan ruang bagi perempuan untuk mengikuti pendidikan setinggi-tinggi nya telah melahirkan kemampuan mereka dalam segala urusan yang sebelumnya mungkin di klaim hanya menjadi wilayah laki-laki. Status perempuan dalam hukum akhirnya ikut mengalami perubahan setahap demi setahap dan dari waktu ke waktu. Di beberapa negara melalui amandemen dan revisi demi revisi UU atas hak-hak perempuan semakin di gulirkan. meski masih belum cukup proporsional, tetapi cita-cita perempuan untuk membangun masa depannya semakin terbuka lebar.

Di Indonesia status setara bagi perempuan dan peluang mereka dalam aktivitas-aktivis politik telah mendapat dasar yuridis dalam UUD 45. Terlepas masih ada sejuta persoalan diskriminasi terhadap perempuan, proses kemajuan perempuan terus berlanjut hingga sejarah baru telah kita saksikan dalam peristiwa politik terbesar yaitu pemilu, keputusan politik telah memberikan 30 % kursi parlemen bagi perempuan. Respon dan akseptabilitas terhadap partisipasi politik perempuan di harapkan bukan untuk kepentingan politik sesaat, demi menarik dukungan untuk sebuah kemenangan dalam perebutan kekuasaan, tetapi karena agama memang “memberikan ruang politik yg luas bagi perempuan”.

Kehadiran perempuan dalam kancah politik di harapkan mampu merumuskan kebijakan-kebijakan yang dapat memberdayakan berjutajuta kaumnya, menghapus kultur diskriminatif dan menghentikan kekerasan yg masih berlangsung secara eskalatif baik di ruang keluarga maupun di ruang sosial.
Kemampuan perempuan dalam kerja politik tentu akan di uji sejarah. Dan bangsa Indonesia pasti berharap optimis bahwa keterlibatan mereka akan memberi manfaat yang lebih besar bagi terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang. Kaum perempuan Indonesia dan kita semua harus mampu menjawab tantangan ini. Amiin

Bu Nyai Hj Muhimmah Falasifah

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan


Post Terkait

LENTERA DI PULAU BALI

Sunday, 7 Jan 2024