Saturday, 02-03-2024
  • Situs resmi Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang || Informasi Pendaftaran ~~ DIBUKA PADA 01 Februari 2024

KITAB-KITAB YANG TAK MUDAH MUSNAH

Diterbitkan : - Kategori : Karya Santri / Pendidikan

 

Siapa tak kenal Matan Jurumiyyah?

Konon, kitab ringkas yang menjadi kudapan sehari-hari para santri itu digubah di depan Kakbah. Penulisnya, Ibn Ajurumi atau juga dikenal dengan al-Imam al-Shanhaji, pernah memperlakukan kitab ini dengan cara yang musykil. Seperti disebut Syaikh Hasan al-Kafrawi, dalam Syarh al-‘Allamah Hasan al-Kafrawi ‘ala Matn al-Ajurumiyyah, tiba-tiba saja al-Shanhaji dihinggapi ide untuk melemparkan susunan kertas calon kitab Matan Jurumiyyah tersebut ke laut.

Layaknya orang sedang menguji kedigdayaan, ia berkata pada dirinya sendiri, “Apabila (niat menulis kitab) ini betul murni untuk Allah sahaja, maka kitab ini tak akan basah (in kaana khalishan lillah, fa la yabullu).” Dan yang terjadi pun terjadilah, rendaman air laut pun tak membuat kitab itu basah. Itulah musabab kenapa sejumlah kiai kemudian menyebut Kitab Jurumiyyah sebagai “Kitab Sakti”.

Seperti Matan Jurumiyyah, Kitab al-Futuhat al-Makkiyah juga disusun di bawah lindungan Kakbah. Setelah rampung menuliskannya, al-Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi al-Hatimi kemudian meletakkan tumpukan kitab tersebut di punggung (atap) Kakbah. Begitu saja kitab tersebut ditaruh, tanpa penjagaan (bi ghairi wiqayah); tidak diikat agar tak tercerai berai, tidak diberi pemberat agar tak diterbangkan angin, tidak ditutup agar tak lapuk dimakan air hujan.

Satu tahun berlalu, dan lapis demi lapis kitab tersebut masih seperti sedia kala. “Tidak selembar pun,” tulis Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam Fatawa al-Haditsiyyah, “tertiup angin dan tergerus hujan, padahal itu adalah tahun ketika hujan-angin amat sering mampir di Kota Mekah.”

Di bagian lain di Fatawa, Ibn Hajar merujuk kejadian ini sebagai salah satu keramat (karomah) dari Syaikh Akbar, selain –seperti yang terjadi pada Matan Jurumiyyah Imam Shanhaji– merupakan bukti keikhlasan beliau. “Kalaupun kelak kita menemukan pendapat Syaikh yang tampak aneh, seperti tentang keislaman Fir’aun,” lanjut Ibn Hajar, “itu hanya kekeliruan dalam ijtihad (khatha’ fi al-ijtihad), yang tidak membuat beliau layak dihukumi kafir.”

Ibn Hajar meneruskan pandangannya bahwa pendapat setiap ulama pasti bisa diterima, atau sebaliknya bisa juga ditolak. Mereka toh baru sebatas ulama. “Hanya orang-orang yang maksum saja, yang tersucikan dari dosa, yang seluruh pandangannya hanya harus semua diterima.”

Lukman Hakim Husnan, Alumni

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan