Saturday, 02-03-2024
  • Situs resmi Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang || Informasi Pendaftaran ~~ DIBUKA PADA 01 Februari 2024

IQRO’ : ISLAM AGAMA MEMBACA

Diterbitkan : - Kategori : Karya Santri / Kegiatan Pondok / Pendidikan

Masih menjadi misteri, kenapa wahyu pertama kali yang Allah Swt pesankan kepada Nabi Muhammad Saw bertemakan “membaca”. Bukannya tema perang (jihad), shodaqoh, haji, sholat dan lain sebagainya. Tidak main-main, bahkan pesan tuhan dengan tema membaca (iqro’) tersebut di ulang sampai tiga kali oleh malaikat Jibril As.

Jawabanya, Mungkin karena Allah Swt ingin sekali Agama Islam yang di nahkodai oleh Nabi Muhammad Saw ini di kenal hambanya dengan agama membaca. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki seorang mujaddid di abad ke 20 misalnya, Beliau mengatakan “jika kalian mencintai agama Islam, maka banyaklah membaca. Kenapa ?. Karena Nabi sudah mengatakan Li Kulli Sya’in lmadun wa imadu hadza ad-din at-tafaquh”.

Lebih tegas lagi, Sayyid Abdullah al-Hadad, seorang mujaddid di abad 11 mengatakan lewat kitab nashohih ad-diniyyahnya. “Kekhawatiran saya, kelak Islam ini akan semakin ghorib (tidak di kenal esensi ajaranya) karena pengikutnya malas membaca tapi banyak bicara”.

Sepertinya, apa yang pernah di khawatirkan oleh Sayyid Abdullah al-Hadad ini sudah mulai terjadi di masa sekarang. Orang begitu bersemangat dalam berbicara. Sehingga mudah menyalahkan tanpa ingin tahu, atau bahkan berusaha untuk membaca lebih dalam lagi. Mencari tahu alasan setiap apa yang ia dengar dan ia lihat.

Ah sudahlah, Setiap kita pasti pernah mengalami masa-masa pubertas beragama. Yaitu, suatu masa dimana seseorang sangat mudah menyalahkan setiap apa yang ia lihat secara spontanitas. Tapi fase ini biasanya gak akan lama, asalkan ia terus mau mengaji dan selalu mau membaca.

Contoh saja, ada santri yang baru belajar Fathul qorib. Pasti ketika keluar dari kamar mandi, ia jinjit-jinjit. Baru setelah ia khotam Fathul jawad, ia sadar kalau semua perbuatanya itu sangatlah lebay dan terbilang sangat berlebihan.

Ketika baru ngaji sulam taufiq, bawaannya sedikit-sedikit ngomong murtad, kafir, bid’ah. Baru ketika ia khotam kitab syarahnya, is’adurrofiq misalnya, ia jadi lebih Arif dan lebih sopan.

Atau misalnya, ketika santri kelas Wustho yang sedang bersemangat mempelajari ilmu nahwu. Melihat kosa kata arab yang i’robnya salah pasti langsung sensi. Melihat hal itu, santri kelas Ulya hanya bisa tersenyum-senyum sambil berguman “maklum si bocil belum khotam al-fiyyah”.

Atau misalnya, orang yang baru belajar al-Qur’an lewat terjemahan. Ketika membaca ayat jihad, pasti jiwanya ingin sekali untuk mem-bom tempat-tempat syirik, tempat-tempat maksiyat. Baru ketika ia mencoba menyelami tafsirnya, pasti ia akan paham bagaimana sulitnya menahan amarah demi di kenalnya agama Islam ramah.

Maka dari itu, Nabi Muhammad Saw pernah berpesan kepada kita. Mencari ilmu, membaca, menganalisis itu tidak terbatasi usia. Bahkan dari bayi sampai mati, kita di wajibkan atas hal itu. Begitulah pesan Nabi.

Sekian ayat al-Qur’an yang memiliki pesan tesis untuk selalu berfikir, menganalisis dan membaca. Ta’qilun, tatafakarun, tatadzakarun dan lain sebagainya.

Maka ayo semangat mengaji dan membaca. Apakah untuk keren-kerenan, menang debat ?. Tidak. Tapi, supaya kita itu lebih tahu, kalau diri kita ini tidak tahu, dan mengenal lebih dekat dzat yang maha tahu. Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu.

Ahmad Hafid Amrullah, Santri Al Muhibbin

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan