Saturday, 02-03-2024
  • Situs resmi Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang || Informasi Pendaftaran ~~ DIBUKA PADA 01 Februari 2024

ABAH JAMAL DAN WASILAH DALAM MENEMUKAN GURU SEJATI

Diterbitkan : - Kategori : Abah / Berita / Pendidikan

 

Bismillah.

Setelah wafatnya beliau KH. M. Djamaluddin Ahmad yang sering kami panggil Abah Jamal, banyak santri dan pecinta beliau yang berbagi kisah tentang interaksi pribadi mereka selama beliau masih hidup. Demi mengenang kebaikan dan “uswah hasanah” beliau, saya ingin turut berbagi cerita tentang pengalaman saya “nyantri” dan berinteraksi secara langsung dengan sosok ulama panutan umat yang fakih dan sufi tersebut.

Saya nyantri secara resmi kepada beliau pada tahun 2002 hingga 2005 di pesantren beliau Bumi Damai al Muhibbin (BDM) –nama resmi pesantren saat itu tanpa embel-embel pondok pesantren (PP) di depannya. Betul, nyantri saya tidak begitu lama dibandingkan santri lain. Hanya tiga tahun. Mengikuti masa studi sekolah formal di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) –setingkat SMA, yang juga saya ambil selama nyantri di sana. Bagi santri sejati, tiga tahun bukanlah waktu ideal nyantri. “Setidaknya, enam tahun”, kata seorang teman kala itu. Ini diperkuat dengan dalil “thul al zaman” (lamanya masa belajar) yang diambil dari kitab “Ta’lim al Muta’allim”, kitab wajib santri di pesantren tradisional. Bahkan, Mbah Wahab (KH. Wahab Chasbullah) sendiri mengatakan “santri Tambakberas agar ilmunya barokah dan bisa disebut purna harus nyantri minimal selama enam tahun,” (redaksi dari saya).

Sebelum nyantri kepada beliau, saya tidak pernah mengenal beliau sama sekali. Ini berbeda dengan teman-teman santri lain yang memang sudah diperkenalkan oleh orang tua mereka sejak sebelum “mondok”. Saya dengan latar belakang keluarga non-Jawa (Minang) dan Muhammadiyah, tentu sangat awam sekali dengan lingkungan dan tradisi pesantren NU nyel ini. Kalau tidak karena tuntunan ilahi langsung, saya tidak yakin akan bisa nyantri kepada beliau. Dan kalau bukan dituntun oleh Yang di Atas, melalui wasilah beliau, saya tidak akan bertemu “Guru Sejati”.

Terlepas dari sebentarnya saya nyantri, sosok Abah Jamal memang begitu berpengaruh dalam kehidupan beragama, moral, dan sosial saya. Kyai yang pintar fikih sekaligus tasawuf ini memiliki segudang “uswah” yang bisa diteladani, tidak hanya oleh santri-santri beliau, tapi juga umat Islam umumnya. Saya kira uswah beliau bisa dibaca di cerita-cerita kawan lain. Saya hanya akan menceritakan salah satu “uswah” beliau dalam perjalanan rohani.

Bayangkan, bagi seorang ulama sekaliber beliau saja, beliau masih harus berguru rohani kepada orang lain. Bagi seorang Muhammadiyah seperti saya yang awam tentang dunia sufi dan spiritualitas ini, dengan keilmuan yang dimiliki oleh Abah Jamal saja saya rasa sudah cukup untuk bisa membawa beliau, sebut saja untuk masuk surga, atau hanya untuk “sekadar” masuk kriteria ulama atau cendikiawan Muslim, panutan umat. Tapi ternyata tidak. Beliau masih “nyantri” kepada guru lain yang lebih paripurna (secara spiritual), yang bahkan lebih muda dari beliau, yaitu KH. Abdul Jalil Mustaqim, mursyid tiga tarekat agung, Syadziliyah, Qodiriyah, dan Naqsyabandiyah, dari PETA Tulungagung, yang sekarang diteruskan oleh putera beliau, KH. Charir Muhammad Shalahuddin al Ayyubi, atau yang sering dipanggil Gus Saladin. Yang disebut belakangan ini merupakan “santri” beliau, Abah Jamal, yang sejak menggantikan abahnya, Kyai Jalil, beralih status menjadi “guru” beliau, Abah Jamal.

Bahkan, dalam memperkuat status beliau yang hanya seorang “murid”, beliau tidak segan-segan membantah sebagian jamaah beliau yang mendudukkan beliau sebagai “mursyid” atau guru ruhani. “Mboten. Kulo sanes mursyid. Mursyid niku seng milih langsung Gusti Allah. Mboten sembarangan.” (Bukan. Saya bukan mursyid. Mursyid itu pilihan Allah langsung. Bukan sembarangan). Ini perkataan beliau langsung di depan jamaah kala itu. Demi menekankan posisi ini, tidak jarang beliau bercerita di setiap kesempatan pengajian, bahwa guru ruhani yang sebenarnya adalah Gus Saladin, yang merupakan putra guru beliau. “Meskipun beliau santri saya, setiap salaman, pasti saya yang mencium tangan beliau,” cerita Abah Jamal di banyak kesempatan.

Berkat tuntunan beliau pula, saya akhirnya juga berguru kepada Mbah Jalil dan Gus Saladin, sang guru ruhani sejati. Seandainya, kala itu saya tidak menjadi santri beliau, rasa-rasanya saya tidak mungkin bisa menemukan guru sejati semudah ini. Bayangkan saja, beliau sendiri harus bertahun-tahun lamanya mencari ke sana ke mari keliling Indonesia kala itu, di masa mudanya, untuk menemukan guru ruhani. Setiap ulama karismatik dan habib ditemui, namun bukanlah guru sejati beliau. Baru setelah itu bertemu dengan Mbah Jalil yang kediamannya tidak terlalu jauh dari kediaman beliau di Jombang. Saya yakin, ketika sakaratul maut, beliau dibimbing oleh guru-guru beliau itu. Dan telah berkumpul dengan Yang Terkasih.

Abah Yai Jamal yang saya cintai. Selamat kembali ke Sang Cinta Sejati bersama guru-guru Panjenengan, termasuk Mbah Jalil. Semoga teladan Panjenengan selalu kami ingat. Dan terimakasih telah membimbing dan mengarahkan kami dalam menemukan guru sejati.

Al Fatihah.

Fikri Yanda Daswarlen
Bandung

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan