Saturday, 02-03-2024
  • Situs resmi Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang || Informasi Pendaftaran ~~ DIBUKA PADA 01 Februari 2024

DIBUTUHKAN PETA PERLUASAN

Diterbitkan : - Kategori : Karya Santri / Pendidikan / Teknologi

Perkembangan diberbagai bidang menyebabkan urbanisasi kultur. Misalnya pada perkembangan didunia digital, sangat mempengaruhi hampir semua aspek tatanan kehidupan. Contoh saja Banyuwangi, daerah Banyuwangi itu daerah turahan, dia dikelilingi gunung dan laut, mau kemana-mana jauh, masyarakat seperti terkurung didalamnya. Bupati Banyuwangi menciptakan berbagai macam inovasi agar masyarakat Banyuwangi tetep bisa menjangkau luas relasi, pengetahuan, pendidikan, ekonomi dll. Pembuatan bandara dan pemasangan puluhan ribu wifi gratis dititik-titik kumpul masyarakat adalah sebagian inovasinya. Berhasil, namun membawa dampak banyak juga. Salah satunya pada masyarakat usia muda Banyuwangi, mereka mengerti dunia luar Banyuwangi lewat media sosial, sedangkan media sosial banyak menampilkan artis, selebgram, artis tiktok dll. Ahirnya ada transformasi kultur didalamnya, sebab mengikuti kultur yang ada di media. Yang terjadi, cara berpakaian pemudi Banyuwangi lebih ngapret ngapret dari pada pemudi Surabaya, lebih berani terbuka.

Contoh lainya, jika dulu orang butuh solusi atau motivasi maka akan pergi ke Kiyai, sekarang orang akan membuka youtube atau tiktok dengan pencarian sesuai kebutuhanya, disitu peran Kiyai tergantikan. Mereka akan mengikuti yang dia dengar di media, sedangkan didalam media orang yang berbicara itu bermacam-macam kapasitasnya, jika yang diliat pas dengan kapasitas kompeten dan kredibel maka tidak masalah. Tapi sering kali yang diikuti itu yang sesuai dengan krhendak hatinya, yang gak sesuai kehendak hatinya padahal itu yang benar tidak diambil. Beberapa kali saya mendapati postingan medsos walisantri di pondokku berisi cuplikan kajian-kajian ust syafiq reza basalamah, ust evie dll, sebetulnya bukan menyalahkan apa yang mereka sampaikan, tapi agak gimana gitu rasanya.
Peran Kiyai kampung pada titik ini sudah tergantikan.

Perkembangan pendidikan dengan berbagai jurusan juga sama. orang-orang yang belajar sampai jenjang tinggi ketika balik ke daerahnya membawa dampak yang besar, dia akan menggantikan peran-peran kultur sebelumnya, yang mana sebelumnya ummat akan kembali ke Kiyai jika konsultasi, sekarang akan memilih ke mereka. Peran Kiyai sebagai cultural broker sudah hilang.

Dan masih banyak lagi perubahan-perubahan pada berbagai wilayah yang perlu kita sikapi.

Contoh lain pada sektor pariwisata. Waktu saya ikut seminar pariwisata di Unipdu bersama Gus Hans penggagas konsep wisata syar’i dan kementrian pariwisata, juga sudah saya sambatkan. Jika konsep wisata syar’i itu hanya sebatas pelengkapan fasilitas keagamaan ditempat wisata maka bagaimana kita menyikapi dampak perubahan kultur pada masyarakat kita sebab ditempat wisata masyarakat kita sering melihat bule berbikini dan minum alkohol?

Perubahan digital, pendidikan dan pariwisata diatas merupakan gejala eksternal yang kadang tidak kita sadari, padahal itu berdampak pada pola kehidupan masyarakat, kita harusnya menyikapi itu. Belum lagi perubahan pada bidang-bidang yang lain, kita harus sensitif.

Persoal terbesar kita saat ini adalah bagaimana kita ini bisa mengikuti perkembangan perubahan. Agenda-agenda kedepan harus kita tata agar islam ini mampu mengakomodir perubahan-perubahan, sehingga penganutnya menjadi terarah dan enjoy.

Moh Asadul Arifin, Santri Bumi Damai Al Muhibbin

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan