Menilik Ramadan di Kota Avatar

*Menilik Ramadan di Kota Avatar*

Menilik tradisi Ramadan daerah lain selalu membawa kabar menarik, terlebih di Negara yang penduduknya mayoritas bukan muslim. Ada banyak hal berbeda, sekaligus menyenangkan yang bisa kita ambil pelajarannya.

Achmad Marzuki, salah satu alumni Bumi Damai Al-Muhibbin yang sedang menempuh pendidikan Bahasa Mandarin di Guangxi Normal University, China, mengatakan bahwa Masyarakat muslim di China mewarnai Ramadan dengan banyak berbagi.

Menurut pengakuannya, pengalaman paling berkesan ketika Ramadan adalah masyarakat muslimnya yang super dermawan, utamanaya Suku Hui, suku minoritas beragama islam yang menyebar di seluruh tiongkok dengan tujuan berdagang. Bahkan penjual-penjual makanan dari Suku Hui sangat senang memberikan makanannya ke sesama muslim. Pernah satu ketika ia bersama delapan orang temannya berniat membeli makanan, oleh penjual makanan dari Suku Hui malah di gratisi makanan banyak sekali dan dibungkuskan berbagai lauk makan untuk sahur banyak sekali.
โ€œDulu, ketika saya bertempat tinggal di daerah Guangzhou, karena memang banyak Masyarakat muslimnya, Masjid-masjid atau perorangan ramai membagikan taโ€™jil dan buka puasa gratis. Suasana Ramadan di Guangzhou jauh lebih terasa daripada di Guilin, tempat tinggal saya sekarang. Meski begitu, Guilin ternyata juga memberi banyak pengalaman berkesanโ€. Kata Marzuki.

Pria dengan sapaan akrap Juki ini menambahkan bahwa di daerah indah bak kota Avatar yang ia tinggali sekarang, Guilin, hanya ada 3 tempat ibadah sentral (Masjid). Karena memang rata-rata masyarakatnya penganut Atheis, muslimnya sedikit sekali. Selain itu, jarak paling dekat dari asrama ke masjid adalah 3 km. Sehingga kadang kalau memang jadwal kuliah tidak padat bisa melaksanakan sholat fardhu atau sholat tarawih di Masjid. Namun kalau jadwal kuliah padat, maka melaksanakannya di asrama bersama rekan-rekan muslim lain.

Soal sholat tarawih, sambungnya, tidak berbeda dengan pelaksanaan sholat tarawih yang bisanya dulu ia lakukan di Indonesia. Dilaksanakan 20 rokaโ€™at sholat tarawih, kemudian menyambung 3 rokaโ€™at sholat witir beserta doโ€™a qunut dan rata-rata pelaksanaanya cepat sekali, belum sampai 30 menit sudah rampung, sambil terkekeh. Begitu juga dengan kajian keislaman. Setiap selesai melaksanakan sholat trawih, akan ada ceramah seperti kultum. Juga pada hari jumโ€™at, sebelum adzan jumโ€™at, khotibnya ceramah dulu sekitar 15 menit. Yang berbeda mungkin dari segi tradisi tadarusan di masjid.
โ€œDisini tadarrusannya tidak bisa seperti di Indonesia. Tidak memakai pengeras suara. kebanyakan dilakukan sendiri-sendiri tiap selesai sholat fardhu. Sebab setelah pelaksanaan sholat isyaโ€™ atau setelah sholat tarawih, masjid langsung ditutup. itu sudah menjadi peraturan Pemerintah setempatโ€ Tandasnya.

Hal demikian, terang dia, menjadi sesuatu yang sangat memantik kerinduan kemeriahan suasana Ramadan di Indonesia. Ada satu kalimat yang selalu memotivasinya untuk semangat menjalani hari di Negeri Tirai Bambu dan segera menyelesaikan studinya:
โ€œ่ฝๅ…ถๅฎž่€…ๆ€ๅ…ถๆ ‘๏ผ›้ฅฎๅ…ถๆต่€…ๆ€€ๅ…ถๆบโ€ (luรฒ qรญ shรญ zhฤ› sฤซ qรญ shรน; yวn qรญ liรบ zhฤ› huรกi qรญ yuรกn)
Artinya: Ketika makan buah, ingatlah pohonnya; ketika minum air, kenanglah sumbernya.
โ€œIntinya sebagai santri, kita jangan sampai lupa asal-usulnya, jangan sampai lupa kepada guru dan Kyai-kyainya. Meskipun sudah lulus dari pondok untuk melanjutkan kuliah di negeri yang muslimnya minoritas, jangan sampai lupa ibadah dan menjalankan syariat-syariat agama. Syukur-syukur bisa berdakwah di daerah tersebut karena dulu asalnya dari santri lulusan pondokโ€. Pungkas mantan penghuni Ribath Al Hanafi 05.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *